Jumat, 19 Agustus 2011

Perpustakaan ajaib Bibbi Bokken


"Apa kamu ingat perempuan tua aneh itu? Yang melongok dari balik pundak kita untuk membaca buku tamu di Pondok Flatbie di atas sana, saat kita menuliskan puisi kita dalam buku itu?"
Dua orang sepupu, Berit dan Nils berhubungan melalu buku surat rahasia yang mereka pikir hanya mereka yang tahu. Ternyata ada seorang wanita bernama Bibbi Bokken dan seorang yang dijuluki Smiley yang mengincar buku surat tersebut.
Perpustakaan ajaib Bibbi Bokken adalah buku yang unik, hanya terdiri dari dua bagian. Yang pertama yaitu "buku surat" dan yang kedua "Perpustakaan".
Pada bagian pertama, Berit dan Nils yang berada di dua kota yang berbeda melakukan komunikasi dalam sebuah buku surat, yaitu surat-menyurat yang mereka lakukan dalam buku yang sama. Dalam buku surat tersebut Berit dan Nils saling bercerita mengenai seorang wanita mencurigakan bernama Bibbi Bokken yang mereka ketahui karena sepucuk surat yang terjatuh dari tas Bibbi Bokken.
Dari surat tersebut mereka tertarik untuk mencari tahu siapa sebenarnya Bibbi Bokken, wanita yang sangat misterius tersebut. Wanita itu sering menerima paket buku, tetapi tidak ditemukan satu bukupun di rumahnya.
Penyelidikan yang mereka lakukan memberi informasi bahwa Bibbi Bokken adalah seorang bibliografer, orang yang melakukan kegiatan bibliografi, hal-hal yang berkaitan dengan buku. Dan juga seorang kolektor incunabula, buku yang dicetak pertama setelah ditemukan seni percetakan buku.
Ketika akhirnya berhasil menemukan koleksi buku-buku Bibbi Bokken dalam perpustakaan pribadi Bibbi Bokken, Berit dan Nils tercengang karena ada ribuan buku yang tersusun rapi, dan dalam keadaan bersih. Buku-buku ini terdiri dari semua jenis buku, termasuk puisi, prosa, dongeng, bahkan buku buku yang belum diterbitkan, yang dikategorikan dengan pintar sesuai klasifikasi desimal Dewey.
Dalam pertemuan dengan Bibbi Bokken akhirnya terungkap siapa wanita misterius itu, dan kenapa buku surat Berit dan Nils sangat menarik perhatiannnya. Selain itu juga terungkap apa motif Smiley, sang karakter antagonis.
Perpustakaan ajaib Bibbi Bokken adalah salah satu karya Penulis Norwegia Jostein Gaarder, penulis yang karyanya selalu menyelipkan nilai-nilai kehidupan, dan ilmu filsafat yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti.
Dalam karyanya kali ini Gaarder berduet dengan Klaus Hagerup yang juga penulis novel remaja. Perpustakaan ajaib Bibbi Bokken ditulis dengan cara yang unik melalui buku surat antara Berit dan Nils yang membawa kita berfantasi dalam cerita petualangan ala lima sekawan dan mengenalkan kita dengan pengetahuan seperti klasifikasi desimal Dewey, dan penulis-penulis terkenal seperti Astrid Lindgren, AA Miles, dll.

Selasa, 07 September 2010

Catatan kecil mengenai penyalahgunaan wewenang.

Dalam seminggu ini kita sudah dua kali membaca dan mendengar berita pejabat yang menggunakan kekuasaannya untuk bertindak seenaknya sendiri. yang pertama wakil ketua DPR Taufik Kurniawan. Saat itu beliau datang terlambat dan sempat meminta pesawat yang sudah take off untuk kembali menjemputnya. Tapi pilot menolak. Lalu yang kedua anggota DPR yang merupakan anak Presiden SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono atau biasa dipanggil Ibas. Keterlambatan Ibas dan rombongan membuat penumpang pesawat lainnya harus menunggu sampai 20 menit. Belum lagi pengawal-pengawal Ibas yang harus menyimpan senjata-senjatanya menambah keterlambatan.

Kejadian-kejadian seperti itu mungkin hal sepele, tapi membuat banyak orang merugi. Semua orang punya hak yang sama. Mungkin saja ada yang sedang terburu-buru, akhirnya menjadi terlambat karena keterlambatan pejabat-pejabat tersebut. Namun ada hal penting yang harus menjadi sorotan dari hal sepele tersebut : penyalahgunaan wewenang. Apa karena mereka anggota DPR lalu mereka punya hak untuk menahan pesawat untuk menunggu mereka, bahkan sampai meminta pesawat yang sudah take off untuk kembali menjemput. Rasanya seperti kembali ke zaman orde baru. :)

Jumat, 03 September 2010

Randhika : Presiden SBY Jangan hanya Pasrah

Tribunnews- Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Rabu 1 September 2010 kemarin di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur mengecewakan banyak pihak.

Dalam pidato tersebut SBY tidak mengemukakan ketegasan sikap mengenai hubungan bilateral RI-Malaysia yang sedang panas.

Pada kesempatan tersebut SBY memaparkan beberapa kerjasama strategis RI dengan Malaysia seperti misalnya kerjasama di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan namun tidak memberi ketegasan mengenai penyelesaian masalah RI-Malaysia belakangan ini.

Deputi Direktur Eksekutif Golden Institute, Randhika Virgayana menilai "Pidato SBY seperti biasa berputar-putar dan tidak menyentuh substansi masalah. SBY hanya bermain dengan kata-kata dengan menggambarkan hubungan bilateral Indonesia dengan Malaysia tetapi tidak menegaskan mengenai penyelesaian masalah,"

Menurut Randhika, pidato tersebut telah ditunggu-tunggu oleh rakyat. Apalagi dalam sikapnya setelah sidang kabinet 31 Agustus lalu SBY terlihat cukup tegas.

Ditambah rencana pidato yang akan dibacakan di Mabes TNI seolah untuk membangun citra yang tegas dalam menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi SBY malah memberikan kekecewaan pada rakyat.
Ketegasan yang seolah diperlihatkan SBY setelah sidang kabinet 31 Agustus lalu tertutup oleh pidato tersebut.

"Seharusnya Presiden memberikan pernyataan tersebut segera setelah penangkapan terhadap pegawai DKP terjadi, tidak membiarkannya berlarut-larut" kata Randhika.

Mengenai penyelesaian masalah melalui diplomasi, Randhika menyatakan persetujuannya. "Saya sepakat mengenai penyelesaian masalah melalui diplomasi. Tetapi diplomasi tersebut harus lebih tegas dan cepat tanggap tanpa membiarkannya berlarut-larut. Tidak seperti sekarang yang terkesan lemah. Presiden harusnya meminta bawahannya untuk mengusut kasus penangkapan pegawai DKP tersebut, bukannya diam saja sehingga terkesan pasrah" tutupnya. (penulis adalah pembaca tribunnews.com)
Sumber: www.tribunnews.com

Rabu, 01 September 2010

Diplomasi RI yang Lemah

Tribunnews - BEBERAPA minggu belakangan ini masyarakat kita ramai membicarakan hubungan RI dengan Malaysia. Hal ini dipicu oleh kelambanan dan ketidaktegasan pemerintah dalam bersikap.

Bisa kita lihat contoh kelambanan ini ketika pemerintah baru mengirim nota keberatan kepada pemerintah Malaysia beberapa hari setelah tiga pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan dikembalikan oleh Malaysia.

Bahkan Presiden SBY baru-baru ini saja mengirim surat kepada Perdana Menteri Malaysia yang hingga kini malah belum dibalas. Dalam pidato pernyataan sikapnya pun lagi-lagi Presiden membuat kecewa banyak pihak karena masih bersikap tidak tegas dalam sebuah retorika belaka.

Ketidaktegasan Pemerintah ini membuat banyak rakyat berang. Ratusan demonstran berdemonstrasi di depan kedutaan Malaysia, bahkan sampai melempar (maaf) kotoran manusia. Suatu hal yang sebetulnya malah melemahkan posisi kita. Tetapi apa boleh dikata, rakyat sudah terlanjur marah.

Sebagian rakyat malah mengobarkan semangat perang melawan Malaysia. Mereka berharap pemerintah memiliki ketegasan seperti Bung Karno yang dulu pernah lantang berteriak "Ganyang Malaysia".
Bahkan sebuah televisi swasta pernah menayangkan smilasi perang Indonesia melawan Malaysia. Suatu semangat yang mengobarkan rasa nasionalisme kita. Namun ada yang mereka lupakan. Zaman sudah berubah, tidak semua masalah bisa dan harus diselesaikan dengan perang.

Pernah dihitung jika perang dengan Malaysia biayanya satu bulan bisa mencapai Rp 30 triliun. Kalau selesai dalam tiga bulan maka akan menelan biaya Rp 90 triliun. Apalagi kalau perang tersebut memakan waktu bertahun-tahun.

Belum lagi kalau sampai Presiden menyatakan Perang dengan Malaysia maka kita harus juga berhadapan dengan aliansi lima negara yang mendukung negeri Jiran tersebut.

Malaysia memiliki sistem aliansi pertahanan dengan Inggris, Australia, Singapura, serta Selandia Baru yang disebut sebagai Five Power Defense Agreement (FPDA).

Salah satu kesepakatan FPDA adalah klausul bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota merupakan serangan pula terhadap negara anggota lainnya. Jadi jika indonesia menyatakan perang terhadap Malaysia, sudah dapat dipastikan kita juga akan berhadapan dengan kelima negara tersebut.

Padahal kalau kita tarik ke belakang ketika Soekarno menyatakan perang terhadap Malaysia tidak semua rakyat mendukung kebijakan itu. Ekonomi masyarakat yang pada saat itu sangat lemah mengakibatkan rendahnya dukungan terhadap Soekarno.

Mereka beranggapan bahwa sikap Soekarno itu akan memperparah keadaan ekonomi masyarakat. Padahal mereka sudah dipusingkan dengan inflasi yang mencapai 650% yang akhirnya membuat harga makanan melambung tinggi, rakyat kelaparan dan terpaksa harus antre beras, minyak, gula, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.

Mengenai perang itu sendiri pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5.000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia.

Seperti itu gambaran yang akan terjadi apabila kita mengobarkan perang terhadap Malaysia. Itu belum termasuk dampak ekonomi, politik, kemanusiaan dan banyak aspek lainnya yang perlu diperhitungkan matang-matang.

Oleh karena itu penulis berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar yang paling bijak dalam menyelesaikan masalah ini. Caranya bisa melalui diplomasi yang lebih tegas terhadap pemerintah Malaysia. Pemerintah diharapkan bisa lebih tanggap dan cepat apabila ada issue-issue yang mengganggu stabilitas kedua negara.

oleh Randhika Virgayana, Peneliti Golden Institute
Sumber:www.tribunnews.com

Rencana Pembubaran Ahmadiyah Ditentang

TRIBUNNEWS.COM - Beberapa hari yang lalu Menteri Agama Suryadharma Ali mengeluarkan pernyataan akan membubarkan Ahmadiyah. Bahkan dalam acara buka puasa bersama di rumah dinas Wakil Presiden Selasa, 31 Agustus yang lalu Menag kembali menegaskan sikapnya ini. Hal ini menyebabkan beberapa kalangan bereaksi. Beberapa tokoh seperti Indra Jaya Piliang, Ulil Abshar Abdhala, menentang keras sikap pemerintah ini melalui akun mereka di jejaring sosial Twitter.

Peneliti Golden Institute, Pradhana Adimukti ketika dimintai pendapatnya di sela-sela acara buka puasa bersama Ikatan Alumni Universitas Trisakti mengatakan " Pejabat publik tidak seharusnya berlaku zalim dengan menunjukkan preferensi pribadinya untuk mendiskriminasikan kelompok lain yang berbeda keyakinan".

Pradhana berharap pemerintah bisa lebih bijak dalam menyikapi persoalan yang amat sensitif ini. Karena seharusnya keyakinan adalah hal yang paling personal dari setiap insan manusia. "Urusan keyakinan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Apakah ada pejabat publik yang layak menggantikan kedudukan Tuhan dalam hal menginterogasi keyakinan umat?" ucap Pradhana sambil menutup pembicaraan.
Sumber:www.tribunnews.com

Kamis, 26 Agustus 2010

Golden Institute Buka Bersama Yatim Piatu - Tribunnews.com



Tribunnews.com - Sabtu, 21 Agustus 2010 yang lalu kemeriahan terdengar di panti asuhan Assurur, Kebon Jeruk, Jakarta. Sekitar 100 anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan tersebut berebut menjawab pertanyaan seputar agama yang diajukan oleh MC. Mereka yang bisa menjawab dengan benar mendapatkan bingkisan yang telah disiapkan oleh panitia.

Acara tersebut digelar oleh Golden Institute, Pusat kajian dan pengembangan demokrasi Indonesia yang berkantor di Jakarta, untuk memeriahkan bulan Ramadhan.

Selain buka puasa bersama anak yatim piatu, Golden institute juga melakukan beberapa rangkaian diskusi keagamaan.

"Acara buka puasa bersama dengan anak yatim piatu ini diadakan sebagai salah satu program sosial Golden Institute dengan tujuan untuk berbagi dengan adik-adik kita yang kurang beruntung. Kami ingin menghapus stigma ekslusif yang diberikan kepada lembaga-lembaga kajian sejenis, oleh karena itu kami merancang kegiatan seperti ini sebagai wujud peduli kami terhadap sesama" kata Deputi Direktur Eksekutif Golden Institute, Randhika Virgayana.

Randhika berharap acara ini bisa menjadi acara tahunan Golden Institute, juga menjadi salah satu acara sosial yang diadakan Golden Institute.

"Acara-acara semacam ini memang sudah termasuk program kami. Selain buka bersama yatim piatu, kami juga sudah menyiapkan beberapa kegiatan sejenis. Tunggu saja tanggal mainnya" ujar Randhika sambil menutup pembicaraan. (*)

sumber:Tribunnews.com

Kamis, 01 Juli 2010

Kepemimpinan Nasional yang jalan di tempat.

Oleh : Randhika Virgayana, SH
pemerhati masalah sosial, peneliti di Golden Institute Jakarta

Menurut wikipedia kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang baik menurut pandangan penulis adalah pemimpin yang tegas, mampu memberi contoh yang baik kepada pengikutnya dan berani bertanggung jawab atas resiko yang diambil dalam setiap keputusannya.
Bulan-bulan belakangan ini kita melihat betapa pemimpin kita terlihat ragu-ragu dalam bertindak dan mengambil keputusan, tidak cepat tanggap atas masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Terkadang malah kita melihat pemimpin kita cenderung melimpahkan tanggung jawabnya kepada orang-orang di sekitarnya. Memang tidak ada yang salah dengan itu namun meurut pandangan penulis pada zaman seperti ini dimana arus informasi cepat sekali berkembang dan kita harus bersaig dengan negara-negara lain maka dalam memimpin Indonesia kita harus berani membuat terobosan-terobosan yang cepat, dan tepat.
Apa yang kita lihat dalam era kepemimpinan SBY-Boediono ini adalah antitesa dari hal tersebut. Pemerintah cenderung bermain aman dan tidak berani mengambil resiko. Dengan gaya kepemimpinan seperti ini dapat dipastikan tidak akan ada terobosan-terobosan yang inovatif dalam menyelesaikan masalah. Seperti yang bisa kita lihat bersama, negara kita sekarang ini cenderung jalan di tempat. Pada awal tahun ini negara kita resmi bergabung dalam ACFTA bersama negara-negara Asia dan China, tetapi pemerintah kita terkesan tidak siap menghadapi ini. Regulasi untuk mendukung kebijakan ini pun terkesan tidak siap. Persoalan lain yang bisa kita lihat belakangan ini adalah ketidaktegasan Presiden dalam masalah pergantian komisioner Komisi Yudisial.Hingga kini masih dalam proses pendaftaran calon peserta. Sedangkan usia komisioner yang sekarang (2005-2010) tinggal menghitung hari. Hampir bisa dipastikan lembaga ini akan mengalami kekosongan kepemimpinan karena komisioner yang sekarang akan demisioner pada Agustus 2010 sedangkan proses seleksi bisa memakan waktu paling tidak enam bulan. Dalam hal ini bisa kita lihat Presiden telah lalai menjalankan kewajiban konstitusionalnya. Hampir tidak ada perhatian kepada Komisi Yudisial ini. Karena itu penulis dan kita semua tentu berharap pemerintah dapat lebih tegas dalam bersikap, karena tentunya kita tidak ingin melihat negara ini tertinggal dengan negara-negara berkembang lainnya.

Rabu, 20 Januari 2010

Toleransi antar umat beragama

Oleh : Randhika Virgayana, SH
pemerhati sosial, peneliti pada Golden Institute, Jakarta

Apa itu pluralisme?
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta pluralis : jamak (lebih dari satu).Jadi pluralisme kalau dikaitkan dengan topik kita adalah keanekaragaman agama dan kepercayaan yang ada dan dianut di dunia ini.
Sekarang kita kesampingkan dulu apa agama kita. Kita coba sebutkan agama – agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Kita mulai dari agama – agama besar yang ada : Islam, Kristen Protestan, Kristen katolik, Budha, Hindu. Seiring perkembangan zaman muncul pula banyak agama-agama baru. Bahkan sejak pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid Konghucu mulai diterima sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia. Di samping agama – agama di atas banyak kepercayaan-kepercayaan yang berkembang seiring dengan makin berkembangnya pola berpikir manusia. Sebut saja salah satunya scientology. Dari beribu-ribu kepercayaan yang berkembang di dunia ini saya yakin semua mengajarkan untuk berbuat baik dan menghindari yang salah.(Kecuali untuk orang-orang yang tidak mengakui adanya Tuhan. Sayapun sampai saat ini tidak habis pikir kok bisa ada orang-orang seperti itu).
Kembali ke topik kita mengenai toleransi beragama. Toleransi beragama adalah salah satu kelemahan bangsa Indonesia yang katanya Bangsa yang ramah. Indonesia sebagai negara yang terdiri dari puluhan ribu pulau dengan wilayah yang kuar biasa luas memang sudah kodratnya berkembang bermacam-macam agama. Walaupun kita diakui sebagai Negara yang berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, tapi Indonesia bukanlah sebuah negara Islam. Indonesia adalah sebuah negara demokrasi yang berazaskan pancasila (yang notabene mengajarkan tentang pluralisme itu sendiri) yang kebetulan berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Jadi adalah sesuatu yang SALAH apabila kita mengabaikan Pancasila dan memaksakan kehendak segolongan orang untuk menegakkan syariah Islam di bumi Indonesia. Karena dengan menegakkan syariah Islam berarti mengkhianati apa yang sudah direncanakan oleh para Founding Father kita yaitu sebuah konsep Bhinneka Tunggal Ika. Penulis amat sadar, mengerti, dan mengakui bahwa negeri yang akan makmur adalah yang menegakkan syariah Islam, tetapi sekali lagi ini akan sangat mustahil bila diterapkan di negara sebesar ini.
Oleh karena itu topik yang saya pilih adalah toleransi beragama bukan penegakkan syariah Islam. Di negara dengan beragamnya kepercayaan di Indonesia kita sudah seharusnya saling menghormati dan dan menghargai antar agama. Menurut saya Islam itu adalah sebuah agama yang yang liberal. Sebuah agama yang mengajarkan umatnya untuk cinta damai. Tidak perlu ada kekerasan apabila ada yang tidak sesuai. Semua bisa dicari jalan keluarnya. Islam itu sebuah agama yang tidak sesempit apa yang yang dipikirkan. Kita tidak dapat menelan mentah-mentah apa yang diterjemahkan dalam terjemahan bahasa Al Qur’an. Cara menterjemahkan sesuatu kan tergantung persepsi orang yang membacanya. Kalau ayat Qur’an tentang kewajiban Ibu untuk menyusui anaknya di baca oleh orang-orang yang berpikiran porno tetap saja akan menjadi porno.




Oleh karena itu penulis menolah mentah-mentah RUU pornografi dan pornoaksi. Sebab untuk mendefinisikan pornografi dan pornografi saja kita masih berbeda pendapat. Hal-hal seperti ini tidak dapat dimaktubkan dalam sebuah Undang-undang. Saya setuju dengan Iwan Fals dalam lagunya Manusia Setengah Dewa “ Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu…”.
Orang-orang yang dikenal sebagai golongan Islam garis keras itu sebaiknya mengurus moral dan akhlak mereka sendiri dulu baru bisa menilai orang lain. Buktinya mereka masih juga melakukan pemboman-pemboman dengan dalih jihad. Saya pribadi amat sangat mengerti dan setuju kalau moral dan akhlak penghuni dunia ini sudah sedemikian bejat. Sudah mulai keluar dari koridor. Tetapi saya sangat tidak setuju kalau untuk mengatasi hal-hal tersebut harus dengan cara kekerasan. Masih ada cara-cara lain yang lebih halus. Sebuah proses dialektika pemikiran melalui diskusi-diskusi, seminar- seminar, atau ceramah-ceramah akan menjadi cara yang sangat cantik dan elegan.
Orang-orang yang sudah terlanjur “sesat” seharusnya dirangkul bukan dibasmi. Zaman sudah demikian maju , bung! Globalisasi terjadi di mana-mana tanpa terbentengi. Kita sebagai umat Islam harusnya bersatu untuk membentengi hal tersebut. Bukannya malah bercerai-berai. Bukannya malah memerangi saudara kita sendiri. Cara yang benar menurut saya adalah dengan masuk ke dalam pergaulan orang –orang yang dianggap sesat tersebut dan merangkul mereka. Bukannya malah memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain dan bila orang tersebut tidak nurut lantas ditinggal.

Senin, 04 Januari 2010

Gus Dur dan Indahnya keberagaman


oleh : Randhika Virgayana, SH
pemerhati sosial, peneliti pada Golden Institute


Innalilahi Wa Inna Ilaihi Ro'jiun.. pada tanggal 30 Desember 2009 yang lalu KH. Abdurrahman Wahid atau yg biasa kita sapa Gus Dur telah pergi mendahului kita semua. selang sehari setelahnya pemakaman beliau dilakukan di kota kelahiran beliau di Jombang. Perhatian hampir sebagian besar masyarakat Indonesia tercurahkan pada berita2 mengenai beliau. Pemakaman bahkan dipimpin langsung oleh Presiden. Seluruh jajarannyanya pun hadir. Saat pemakaman terlihat begitu besar anomi masyarakat untuk menyaksikan baik melalui televisi, bahkan banyak yg datang langsung ke Jombang. Ribuan orang datang silih berganti setelahnya untuk melantunkan do'a kepada Almarhum.
Setelah kepergian beliau terlihat bahwa seorang Gus Dur adalah seorang tokoh yang sangat besar. Bahkan mungkin Tokoh besar terakhir yg akhirnya pergi meninggalkan kita. Saya yakin sedikit tokoh di era setelah gus Dur yang kepergiannya akan ditangisi banyak orang seperti itu. Bahkan masyarakat dari agama2 lain yang bukan Islam turut mendoakan beliau. Berbagai tokoh lintas agama datang ke pemakaman beliau. Negara2 tetangga pun mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.Gus Dur juga secara pribadi adalah tokoh yang dikagumi penulis. Semenjak penulis membaca buku-buku tentang beliau, pandangan penulis atas sikap-sikap "nyeleneh" beliau berubah. Penulis bisa lebih memahami apa yang ada dalam pikiran beliau.
Pertanyaannya : kenapa kepergian seorang Gus Dur ditangisi banyak pihak?
karena Gus dur adalah seorang tokoh lintas agama yang tidak MENGAJARI kita, tetapi MEMBERI TAULADAN kepada kita mengenai toleransi antar umat beragama. Masih teringat jelas dalam ingatan kita jasa beliau yang mungkin paling terkenal dalam urusan toleransi antar umat beragama yaitu dengan menjadikan tahun baru China sebagai hari libur. Selain itu banyak hal-hal lain yang akhirnya membuat beliau disegani, bukan hanya oleh kalangan Muslim saja, tetapi oleh hampir semua agama. Satu hal pelajaran yang harus kita petik dari Gus Dur adalah bahwa beliau tidak pernah menghakimi, karena menghakimi itu urusan Allah. Penulis teringat sebuah wawancara dengan Dorce gamalama di sebuah stasiun televisi swasta pada waktu Gus Dur meninggal. Pada kesempatan itu Dorce bercerita bahwa saat ia memutuskan untuk mengganti jenis kelamin menjadi seorang perempuan dan dihujat banyak pihak ia mendatangai Gus Dur. Dan Gus Dur hanya berkata kalo itu sudah keputusan dia, jalani saja. Disini kita bisa melihat betapa besar hati seorang Gus dur untuk tidak menghakimi Dorce seperti yang sebagian kita lakukan. Karena betul, yang patut menghakimi itu hanya Allah SWT.
Dalam era keterbukaan seperti sekarang mungkin penulis bisa katakan bahwa kalau tidak ada Gus Dur yang menjaga setelah reformasi, mungkin negara ini sudah menjadi negara Islam. Sesuatu yang menurut penulis bertentangan dengan cita-cita pendiri bangsa ini. Sesuatu yang bertentangan dengan nilai2 luhur Pancasila. Maka sejatinya kita yang sekarang sebagai insan- insan yang masih bisa bernafas di negara ini bisa turut menjaga keutuhan nilai2 Pancasila tersebut. Penulis yakin masih banyak Gus Dur-Gus Dur kecil di luar sana. Tetapi seorang KH Abdurrahman Wahid hanya satu dan tak akan tergantikan.
Selamat Jalan Gus....

Senin, 26 Oktober 2009

Drama Cikeas dan Sandera Getok Tular

EEP SAEFULLOH FATAH

Sungguh tak mudah menjadi Susilo Bambang Yudhoyono. Partai Demokrat yang dipimpinnya berhasil meraih 20,85 persen suara dalam pemilu legislatif. Ia lalu terpilih secara meyakinkan sebagai presiden dengan mengantongi 60,8 persen dukungan pemilih. Namun, ketika membentuk kabinet, mau tak mau, ia harus mengakomodasi kepentingan empat partai lain penyokong pencalonannya, yang sesungguhnya secara bersama-sama ”hanya” meraih 24,15 persen suara dalam pemilu legislatif.

Jika kita gunakan logika presidensialisme murni, kemenangan mutlak yang diraih Yudhoyono semestinya membuat dia amat sangat leluasa menyusun kabinetnya. Namun, mengingat sistem multipartai yang mengantarnya ke kursi presiden, kabinetnya mau tak mau mesti mengakomodasi dan merepresentasikan kepentingan partai-partai peserta koalisi.

Siapa pun presiden Indonesia mau tak mau akan berada di tengah tarik-menarik presidensialisme dan sistem multipartai itu. Yang kemudian menegaskan kualitas politik sang presiden adalah dua kemampuan sekaligus. Pertama, seberapa jauh ia pandai mengelola hubungan mandat-akuntabilitas-keterwakilan dengan publik sebagaimana diamanatkan presidensialisme. Kedua, seberapa cerdas ia mengelola keterwakilan partai secara substantif untuk membuatnya selamat di tengah kepentingan banyak partai yang berjalin kelindan.

Saya menilai Yudhoyono cukup berhasil menunaikan dua tuntutan itu, tetapi dengan sedikit catatan berikut.

Drama Cikeas

Manakala menjalankan fungsi presidensialnya berhadapan dengan tuntutan mandat-keterwakilan-akuntabilitas publik, Yudhoyono lebih banyak bermain di level kemasan ketimbang substansi. Fakta ini terwakili oleh drama tiga hari di Cikeas.

Selama tiga hari sejumlah calon menteri berdatangan ke Cikeas untuk menjalani semacam uji kepatutan dan kelayakan. Para calon menteri itu menunggu di pendapa sebelum ”diwawancara” Yudhoyono dan wakil presiden terpilih Boediono. Lalu, selepas ”wawancara”, mereka berbicara di hadapan publik melalui corong para jurnalis.

Selepas itu, media (baca: kita) mulai membuat spekulasi mengenai siapa akan menjabat apa. Beredarlah perkiraan pengisian pos-pos departemen, kementerian negara, dan pos-pos setingkat menteri negara.

Pada titik itulah drama tiga hari di Cikeas itu lebih banyak berhenti di level kemasan, bukan substansi. Dalam format seperti itu—mengulang format serupa lima tahun lampau—audisi para calon menteri tak bisa disebut sebagai fenomena transparansi dan pertanggungjawaban publik kerja seorang presiden. Rentetan kejadian itu pun lebih banyak menjadi adegan-adegan drama yang miskin substansi.

Drama itu pun terasa mengganggu karena beberapa faktor. Publik tak diberikan penjelasan memadai tentang ”siapa hendak ditaruh di pos apa lantaran alasan apa”. Jika prosesi itu hendak dimaknai sebagai mekanisme demokratis pembentukan kabinet, selepas wawancara setiap tokoh seyogianya juru bicara presiden menjelaskan kepada publik sang tokoh hendak diposisikan di pos mana berikut alasan-alasannya. Lalu, sang tokoh berbicara untuk menceritakan identitas dirinya serta menegaskan kesiapannya mengemban tugas.

Selain itu, dengan keleluasaan waktu yang dimilikinya, presiden terpilih sesungguhnya bisa mengadakan uji kelayakan itu lebih awal. Dengan demikian, publik diberikan penerangan dalam rentang waktu yang memadai.

Dengan demikian, prosesi itu pun menjadi semacam prosesi transparansi dan akuntabilitas publik kerja presiden tanpa mencederai hak prerogatif presiden dalam menyusun pemerintahan. Prosesi itu pun terlepas dari dramatisasi berlebihan sambil tetap menjaga prinsip-prinsip pokok presidensialisme.

Sandera getok tular

Di luar kebutuhan menegakkan prinsip presidensialisme secara elegan itu, presiden juga dituntut berkemampuan mengelola keterwakilan partai. Ditilik secara statistik, Yudhoyono sukses mengelola perkara terakhir ini. Ada 19 wakil partai dan 18 tokoh nonpartai terakomodasi dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

Namun, sukses statistik itu harus diuji secara politik. Benarkah bahwa komposisi itu menggambarkan terakomodasinya kepentingan partai-partai politik dan bukan sekadar tersalurkannya kehendak segelintir elite partai? Seberapa jauh ”kabinet pelangi” ini berkemampuan menjaga disiplin koalisi selama pemerintahan berlangsung hingga lima tahun depan? Seberapa efektif kontrak politik, kontrak kinerja, dan pakta integritas yang dibuat antara Yudhoyono-Boediono dengan partai dan para tokohnya itu akan berfungsi mengefektifkan pemerintahan?

Jika komposisi kabinet yang akomodatif terhadap partai-partai itu ternyata tak mendekatkan kita pada jawaban-jawaban positif atas deretan pertanyaan di atas, boleh jadi yang kita sua di balik koalisi besar itu sekadar fenomena ”sandera getok tular”. Presiden diam-diam menyandera partai-partai dengan mengikat kepentingan segelintir elite partai itu, lalu segelintir elite partai tadi diam-diam menyandera partainya sendiri.

Jika fenomena ”sandera getok tular” itu yang kemudian terbangun, prosesi-prosesi politik selepas Pemilu 2009 akan mengakumulasikan keuntungan kepada Yudhoyono dan Partai Demokrat. Sebaliknya, rentetan prosesi itu makin menumpukkan kerugian pada partai-partai peserta koalisi lainnya.

Saya berharap bukan itu yang sedang terjadi. Saya berharap lima tahun ke depan Yudhoyono bukan saja akan sukses menjaga stabilitas pemerintahannya, tetapi juga meningkatkan efektivitas presidensialisme dan produktivitas demokrasi kita.

EEP SAEFULLOH FATAH Pemerhati Politik dari Universitas Indonesia
Sumber : cetak.kompas.com

Rabu, 21 Oktober 2009

Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II

Jakarta - Usai sudah rangkaian audisi yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menyaring para pembantunya. Tanpa ragu, SBY menyampaikan susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.

Susunan KIB II ini disampaikan Presiden SBY dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2009) pukul 22.00 WIB. Ikut dalam jumpa pers adalah para menteri KIB I dan juru bicara kepresidenan, Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal.

MENTERI KOORDINATOR

1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
3. Menko Kesra : R Agung Laksono
4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi

MENTERI DEPARTEMEN

1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
9. Menteri Pertanian : Suswono
10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Sedyaningsih
16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
20. Menteri Komunikasi dan Informatika : Tifatul Sembiring

MENTERI NEGARA

1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari Gumelar
5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas : Armida Alisjahbana
8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa

PEJABAT SETINGKAT MENTERI

1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
(anw/gah)

Rabu, 14 Oktober 2009

Presiden Yudhoyono dan "Demokrasi Mataraman"

Kamis, 15 Oktober 2009 | 03:57 WIB

Oleh Anwar Hudijono

Setelah Raja Pajang Sultan Hadiwijaya wafat, ada dua poros suksesi utama, yaitu Pangeran Benawa di Pajang dan Panembahan Mas di Madiun. Keduanya sama-sama keturunan darah biru Sultan Trenggana dari Demak Bintara.

Namun, ternyata yang muncul adalah Panembahan Senapati dari Mataram. Dia bukan trah raja. Dia yang semasa kecil bernama Sutawijaya lahir dari kalangan jelata. Ayahnya, Manahan, pernah menjadi perwira Demak bergelar Ronggo Tohjoyo.

Senapati memegang teguh wewarah (ajaran) kultur Jawa bahwa tan ana baskara kembar (tak ada matahari kembar). Tidak boleh ada kekuasaan yang membayanginya. Kekuasaan yang bisa membayangi dirinya ditaklukkan dengan prinsip menang tanpa merendahkan. Berarti memilih penyelesaian politik. Kalau tidak bisa, baru dengan cara militer.

Kerajaan Pajang dilikuidasi. Pewarisnya, Pangeran Benawa, dijadikan bupati di Jipang. Diperhitungkan, Benawa tak akan bisa besar karena berada di daerah basis pendukung Pangeran Sedalepen, musuh kakeknya, Trenggana.

Jurus gertak dan jepit dilakukan terhadap Madiun. Disertai ancaman militer, dipilih pula jalur politik. Retna Dumilah, anak Panembahan Mas, dijadikan istri.

Adipati Pragola di Pati masih memberontak. Senapati tahu, menyerang akan menimbulkan korban besar dan melelahkan karena Pati cukup kuat. Untuk itulah, putrinya, Pambayun, dijadikan umpan untuk menjerat Pragola sampai akhirnya dikawin. Pragola memang mau menghadap Senapati, tetapi sebagai menantu. Sementara sebagai penguasa, dia tetap tidak mau tunduk.

Akhirnya Senapati membunuh Pragola dengan cara mengempaskan kepalanya di batu hitam yang didudukinya saat menantunya itu sungkem. Jasad Pragola dikubur separuh dalam tembok istana, separuh di luar. Itu sebagai simbol separuh sebagai keluarga, tetapi separuh adalah musuh.

Senapati terus menggeber sayap kekuasaannya. Semua harus tunduk, karena pada dasarnya raja yang besar adalah bila seluruh rakyat tunduk. Kalau ada yang masih memberontak atau mbalela (oposisi), berarti kebesarannya berkurang.

Sampai-sampai dia nyaris lupa diri, nafsu kekuasaan yang terlalu besar sehingga lupa norma seperti hendak menghancurkan Giri dan Cirebon. Padahal, kedua daerah ini dicintai rakyat karena memiliki otoritas keagamaan, bukan semata otoritas politik. Demak pun menaruh hormat dan menjadikan keduanya sebagai konfederasi.

Mendekati kemutlakan

Menurut ”ilmu pangremesan”, otak-atik mathuk (dicocok-cocokkan) proses tampilnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di puncak kekuasaan mirip Senapati. Pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2004, ada dua poros utama trahing kesuma rembesing madu politik. Mereka adalah Megawati Soekarnoputri dari trah presiden pertama, Soekarno, dan Wiranto yang boleh dibilang adalah representasi dari trah presiden kedua, Soeharto.

Namun, ternyata yang muncul adalah SBY dari luar arus utama itu. Kemenangan SBY sangat mencengangkan. Dia mendapat legitimasi mitos sebagai Satria Piningit, yaitu lahirnya pemimpin yang memang menjadi suratan alam. Apalagi dia memang sempat terpingit (menyembunyikan diri) di Cikeas, Bogor, setelah berhenti dari kabinet Megawati. Dia seperti Senapati yang menyingkir di Hutan Mentaok yang lalu menjadi Mataram. Senapati pun mendapat legitimasi sebagai penguasa yang memang dikehendaki jagat karena ayahnya meminum air kelapa milik Ki Ageng Giring. Ada suara gaib yang mengatakan, siapa yang meminum air kelapa itu, keturunannya akan menjadi penguasa Tanah Jawa.

Karier kekuasaan SBY dan Senapati sama-sama berada di garis naik. Kalau pada Pilpres 2004 SBY harus menang dua putaran, pada Pilpres 2009 dia menang satu putaran dengan suara hampir 60 persen.

Kemenangan itu sebenarnya memberikan legitimasi yang kuat. Akan tetapi, rupanya itu belum cukup. Terkesan SBY ingin agar seluruh kekuatan politik tunduk. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang pada periode pertamanya bersikap oposisi, dikempit dengan cara Taufik Kiemas, suami Megawati, didorong menjadi Ketua MPR. Partai Golkar pun hampir pasti akan digandeng dengan diberi menteri atau kompensasi lain.

Pada periode kedua ini kekuasaan SBY benar-benar mendekati kemutlakan. Gangguan dari parlemen hampir pasti tak akan ada lagi, seperti pada periode pertama. Kekuatan yudikatif sama lemahnya dengan legislatif, apalagi setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin melemah.

Jika pada periode pertama masih ada nuansa matahari kembar dengan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, periode kedua ini hampir pasti tidak ada. Boediono akan bisa bersikap cukup menjadi rembulan. Seterang apa pun, jika matahari ada, rembulan akan pucat pasi.

Menurut ”ilmu titen”, kekuasaan yang semakin besar, apalagi mendekati mutlak, akan mudah sekali mengundang melik nggendong lali (lupa diri). Hal itu tidak dibatasi apakah itu kekuasaan kerajaan atau demokrasi. Soekarno terpilih dengan cara semidemokrasi. Namun, dia membiarkan dirinya dinobatkan sebagai presiden seumur hidup.

Soeharto juga dipilih MPR hasil pemilu sebagai bentuk demokrasi. Toh, ia tetap mau dipilih kembali kendati sudah berkuasa 30 tahun. Dia juga dinilai diktatorial. KH Abdurrahman Wahid pun nyaris ”lupa diri” ketika membubarkan MPR, yang kemudian melengserkannya.

Munculnya sikap lupa diri itu tidak selalu semata dari diri sang penguasa, tetapi juga bisa dari orang di sekitarnya, baik yang bertujuan mengeruk keuntungan pribadi maupun menjerumuskannya. Dalam cerita Mahabarata, Prabu Duryudana tak mau menyerahkan separuh Hastina kepada Pandawa karena provokasi Patih Sengkuni dan Pandita Durna. Kisah itu bisa terjadi dalam dunia nyata kekuasaan di negeri ini pula.

Tanda awal berjangkitnya lupa diri itu, menurut ”ilmu titen”, jika penguasa sangat sensitif terhadap perbedaan pendapat, apalagi kritik karena merasa dirinya paling benar, paling berkuasa, paling kuat, dan semua orang harus tunduk. Dengan demikian, kalau ada yang berani berbeda pendapat, itu sudah dikategorikan memberontak atau beroposisi.

Semoga SBY tak sampai melik nggendong lali meski kemungkinan itu bisa terjadi. Lihat saja, dengan menguasai parlemen, SBY akan dengan mudah mengubah batasan masa jabatan presiden dua periode pada konstitusi menjadi lebih. Kalau ia bisa lepas jeratan ”lupa diri”, insya Allah dia akan bisa mengantar Indonesia memasuki zaman emas, seperti Senapati mengantar Sultan Agung membawa Mataram meraih masa keemasan.
Sumber : cetak.kompas.com

Selasa, 13 Oktober 2009

Kiamat Tahun 2012 Dibantah

Rabu, 14 Oktober 2009 | 04:01 WIB

Apolinario Chile Pixtun bosan dihujani pertanyaan mengenai kalender Maya yang memperkirakan kiamat pada 21 Desember 2012. Menurut tetua Indian Maya itu, berita tersebut tidak benar. ”Saya kembali dari Inggris tahun lalu dan mereka membuat saya muak dengan hal itu.”

Keadaan bisa bertambah buruk baginya. Bulan depan film Hollywood berjudul 2012 akan diputar di bioskop, yang memperlihatkan gempa bumi, hujan meteor, dan sebuah tsunami mencampakkan sebuah kapal induk ke Gedung Putih.

Di Universitas Cornell, Ann Martin, yang mengelola situs internet Curious? Ask an Atronomer, mengatakan, orang- orang telah ketakutan.

”Sayang sekali bahwa kita mendapatkan e-mail dari siswa-siswa SD yang mengatakan bahwa mereka terlalu muda untuk mati,” kata Martin. ”Ada juga seorang ibu dua anak kecil yang takut dia tidak akan hidup untuk melihat mereka dewasa.”

Chile Pixtun, warga Guatemala, mengatakan, teori-teori hari kiamat itu datang dari gagasan Barat, bukan Maya.

Sebuah periode waktu yang penting bagi orang Maya memang berakhir pada tanggal itu, dan orang-orang telah menemukan serangkaian penjajaran astronomis yang menyebutkan pada tahun 2012 akan ada kejadian langka bagian dari siklus setiap 25.800 tahun.

Namun, sebagian besar ahli arkeologi, astronomi, dan suku India Maya mengatakan, satu-satunya yang mungkin akan menghantam Bumi adalah hujan filsafat New Age dan kabar angin soal kiamat di internet. Dengan kata lain, hari kiamat itu tidak benar.

Ramalan kiamat tahun 2012 terdengar seperti skenario kiamat yang bermunculan dalam beberapa dekade terakhir. Namun, ”ramalan” Maya ini agak lain karena disebutkan mempunyai beberapa dasar arkeologis.

Salah satu conrohnya adalah Monumen Enam. Monumen ini ditemukan di Meksiko selatan saat pembangunan jalan raya tahun 1960-an. Lapisan batu di monumen itu nyaris musnah. Sebagian besar situs itu tertutup aspal dan bagian-bagian dari batu itu telah dijarah.

Namun uniknya, ada bagian batu masih tersisa, yang mengandung padanan angka 2012. Pesan yang tertangkap pada lembar batu itu menyebutkan akan terjadi sesuatu pada tahun 2012. Perkiraan itu melibatkan Bolon Yokte, salah satu dewa Maya yang misterius yang dihubungkan dengan perang dan penciptaan. Erosi dan retakan pada batu itu membuat bagian akhir dari tulisan itu nyaris tak terbaca.

Ahli arkeologi Guillermo Bernal dari Universitas Otonomi Nasional Meksiko mengartikan bagian akhir tulisan yang sudah terkikis itu mungkin menyebutkan, ”Dia akan turun dari langit”.

Peradaban Maya mencapai puncak kejayaan dari periode tahun 300 Masehi sampai 900 Masehi. Mereka juga mengembangkan astronomi.

Kalender Hitungan Panjang milik Maya dimulai tahun 3114 sebelum Masehi. Kalender ini menandai siklus 394 tahunan sebagai Baktun. Angka tiga belas adalah angka penting dan sakral bagi Indian Maya. Suku ini memercayai Baktun ke-13 berakhir sekitar 21 Desember 2012.

Namun, ada yang mengatakan hal itu tidak menyimpulkan soal kiamat. ”Itu merupakan ulang tahun khusus soal penciptaan,” kata David Stuart, seorang spesialis epigrafi Maya dari Universitas Texas di Austin, AS. ”Orang Maya tidak pernah mengatakan dunia akan berakhir, tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka hanya mencatat peringatan masa depan di Monumen Enam.”

Bernal mengatakan bahwa kiamat merupakan sebuah konsep ”yang sangat Barat, Kristen” yang diproyeksikan kepada orang Maya”.

Namun, sebagian orang mengatakan orang Maya mengetahui sebuah rahasia lain: poros Bumi bergoyang dan mengubah posisi bintang-bintang setiap tahun. Sekali dalam setiap setiap 25.800 tahun Matahari menjajarkan diri dengan pusat Bima Sakti. Ini sekaligus menandakan Matahari berada pada titik terendah di kaki langit. Itu akan terjadi pada 21 Desember 2012. Saat itu pula Matahari terbit di tempat yang sama dan pusat galaksi menjadi terang benderang.

Teori lain memang menyebutkan penjajaran itu atau gangguan magnetik bisa menimbulkan pergeseran kutub. Ilmuwan mengatakan, kutub-kutub mungkin bergeser satu derajat selama satu juta tahun. Namun, dikatakan juga, tak ada tanda-tanda itu akan terjadi pada tahun 2012.(AP/DI)
Sumber : cetak.kompas.com

Senin, 05 Oktober 2009

Amanat Bersama #IndonesiaUnite

Kami adalah generasi baru, pewaris sah Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami adalah generasi baru, yang menolak untuk hidup dan tumbuh dengan rasa takut. Kami memilih menjadi pemberani.

Kami adalah generasi baru, yang percaya setiap kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Karena itu, kami akan berusaha untuk memutus rantai kekerasan melalui karya kemanusiaan di mana pun kami berada.

Kami adalah generasi baru, yang percaya penuh dengan prinsip demokrasi, kemanusiaan, kesetaraan, dan saling menghormati. Karena itu, kami menolak segala bentuk diskriminasi.

Kami adalah generasi baru, yang akan membangun sebuah bangsa dan negara yang bermartabat dan terhormat, mampu mempersatukan Indonesia, melindungi hak-hak individu, berdiri di atas semua golongan, serta memuliakan manusia-manusia yang menjadi rakyatnya.

Vulgar! Tayangan Televisi Korban Gempa Sumbar

Minggu, 4 Oktober 2009 | 21:14 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah mengimbau televisi untuk tidak menayangkan evakuasi korban gempa di Sumatra Barat secara vulgar, agar tidak menyalahi aturan penyiaran.

Anggota KPID Jateng, Najahan Musyafak di Semarang, Minggu (4/10) mengatakan, KPID Jateng maupun secara pribadi mendapat keluhan masyarakat tentang penayangan korban gempa secara vulgar atau terang-terangan.

"Saya kira korban gempa tidak harus diperlihatkan secara terang-terangan, seperti memperlihatkan mayat atau potongan organ tubuh yang tertimpa gempa tidak harus ditayangkan dengan jelas, karena berdampak pada trauma masyarakat," katanya.

Selain itu, televisi jangan mengeksploitasi korban gempa, seperti menyuruh korban menangis, meronta-ronta dan sebagainya. "Banyak pemisra televisi yang mengeluhkan tayangan itu. Saya berharap televisi juga tidak menayangkan mayat-mayat dengan jelas, ini membuat takut dan jijik para pemirsa," katanya.

Menurut dia, dalam Undang-undang No.32 tahun 2004 tentang Penyiaran dalam pasal 36, disebutkan televisi tidak boleh memperlihatkan tayangan-tayangan yang memiliki nilai eksploitasi.

Peraturan KPI nomor 03 Tahun 2007, tentang Standar Program Siaran (SPS) Pasal 30 menyebutkan, lembaga penyiaran agar membatasi gambar yang memperlihatkan korban bencana dengan memperhatikan dampak negatif seperti trauma.

Baik kepada keluarga korban atau penonton anak-anak, dan lain-lain. "Pasal 30 SPS mengatur agar gambar korban bencana disamarkan dan durasinya dibatasi," katanya.

Masih menurut Najahan, dalam Pasal 54 SPS dikatakan, dalam meliput dan atau menyiarkan program yang melibatkan pihak-pihak yang terkena tragedi bencana, lembaga penyiaran harus mempertimbangkan dampak peliputan bagi proses pemulihan korban dan keluarganya.

Serta tidak boleh menambah penderitaan ataupun trauma orang yang terkena musibah, dan atau orang yang sedang berduka, dengan cara memaksa, menekan korban dan/atau keluarganya untuk diwawancarai dan atau diambil gambarnya. "Yang harus dilakukan oleh peliput adalah menampilkan korban gempa secara manusiawi," katanya.

Pihaknya akan menghimpun keluhan-keluhan dari masyarakat tersebut, kemudian akan dirapatkan dan secara kelembagaan KPID untuk menegur media yang menayangkan korban gempa secara vulgar. "Dalam penayangan ada etikanya sendiri, tidak boleh berlebihan," katanya.
Sumber : kompas.com

Kamis, 10 September 2009

Tommy Maju Bukan karena Wangsit Pak Harto

Jakarta - Tommy Soeharto mengaku maju dalam bursa Ketua Umum Golkar karena ingin memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Bukan karena mendapat wangsit dari Soeharto atau atas anjuran guru spritualnya.

"Ah tidak ada, " ujar Tommy sambil memamerkan senyum khasnya.

Hal itu disampaikan Tommy dalam jumpa pers pencalonan dirinya menjadi calon ketua umum Golkar di Gedung Granadi, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (10/9/2009).

Tommy menjelaskan, tidak ada hal-hal spiritual yang menjadi latar belakang pencalonannya.

"Seperti yang saya katakan tadi motivasi saya maju adalah demi bangsa dan negara," tandasnya.
Sumber : detik.com

Minggu, 06 September 2009

Ini dia 45 nama calon menteri kabinet baru

Sabtu, 5 September 2009 | 09:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyusun kabinet pemerintahan yang baru untuk periode 2009-2014 sudah mendekati final, setelah SBY melakukan pembicaraan dengan sejumlah partai politik.

"Kabinet mendekati final. Pembicaraan dengan partai sudah selesai, tetapi penilaian terhadap menteri berprestasi pada kabinet kali ini juga menjadi pertimbangan SBY untuk menyusun kabinetnya," kata seorang yang dekat dengan SBY di Jakarta, Sabtu (5/9).

Menurut sumber itu, SBY telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah partai politik termasuk dengan Partai Golkar, PDI-P, dan Gerindra untuk membentuk kabinet yang kuat secara kerja dan politik.

Menurut sumber itu, masuknya nama calon menteri dari Partai Golkar, PDI-P, dan Gerindra merupakan upaya SBY untuk menciptakan stabilitas politik di dalam dan di luar parlemen sehingga bisa menjadi sumber percepatan kebangkitan Indonesia.

"Partai yang memenuhi electoral threshold diberi kesempatan proporsional untuk bersama bekerja keras menuju Indonesia yang dicita-citakan. Selain itu juga untuk menciptakan persaingan yang normal antarpartai ke arah persaingan yang sehat untuk 2014," katanya.

Berikut ini nama-nama penggawa kabinet yang baru (isu):

Partai Golkar:

1. Agung Laksono
2. Muladi
3. Andi Mattalata
4. Erlangga Hartarto

PDI-P:

5. Pramono Anung
6. Puan Maharani

Partai Gerindra:

7. Prabowo Subianto

Wajah lama:

8. Purnomo Yusgiantoro
9. Bachtiar Chamsyah
10. Taufik Effendi
11. Hatta Rajasa
12. Mardiyanto
13. Hasan Wirajuda
14. Sri Mulyani Indrawati
15. Mari Elka Pangestu
16. Anton Apriyantono
17. MS Kaban
18. Jusman Syafei Djamal
19. Adhyaksa Dault
20. Fredy Numbery
21. Siti Fadillah Supari
22. Joko Kirmanto
23. Bambang Sudibyo
24. Jero Wacik
25. Meutia Hatta
26. Lukman Edy
27. Mohammad Nuh
28. Sofyan Jalil

Wajah baru:

29. Djoko Suyanto (mantan Panglima TNI)
30. Joyo Winoto (Kepala Badan Pertanahan Nasional)
31. MS Hidayat (Ketua Umum DPP Kadin)
32. Darwin Z Saleh (Ketua Bidang Ekonomi Partai Demokrat)
33. Soetanto (mantan Kapolri)
34. Hermanto Dardak (Dirjen Departemen PU)
35. Hidayat Nurwahid (PKS)
36. Muhaimin Iskandar (PKB)
37. Kurdi Mustofa (Staf Khusus Presiden)
38. Tifatul Sembiring (Presiden PKS)
39. Andi Arif (Sekjen Jaringan Nusantara)
40. Siti Nurbaya (Sekjen DPD)
41. Arif Afandi (Wakil Wali Kota Surabaya)
42. Velix Wanggai (tokoh Papua)
43. Andi Mallarangeng (Juru Bicara Presiden)
44. Roestanto Wahidi Dirdjojuwono (Partai Demokrat)
45. Cahyana Ahmad Djayadi (Dirjen Kominfo)

Jumat, 10 Juli 2009

Misteri Makam Michael Jackson

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Setelah penghormatan terakhir untuk Michael Jackson di Staples Center, Los Angeles, berakhir, kini penggemar Jackson menghadapi misteri baru mengenai lokasi makam Jackson. Hingga Rabu (8/7), keluarga tak bersedia mengungkapkan informasi ini.

Sejumlah media lokal melaporkan peti jenazah Jackson itu ternyata tak kembali ke rumah duka Hollywood Hills. Karena tak jelas, banyak pihak yang kemudian yakin Jackson akan dimakamkan di Neverland Ranch.

Setelah prosesi di Staples Center, semua anggota keluarga Jackson menuju ke hotel berbintang lima Beverly Hills untuk makan siang. Namun, sampai saat ini media massa tak tahu dibawa ke mana peti jenazah Jackson yang terbuat dari emas 14 karat itu.

Banyak spekulasi beredar, termasuk lokasi makam Jackson di Forest Lawn yang menjadi lokasi makam bagi sejumlah aktor, musisi, dan tokoh terkenal, seperti Bette Davis dan Andy Gibb. Sebagian orang yakin Jackson dimakamkan di pemakaman Forest Lawn karena neneknya, Martha Bridges, juga dimakamkan di sana, yang memiliki pemandangan San Fransisco Valley serta dekat studio Warner Bros dan Walt Disney.

Pekan lalu keluarga Jackson mengutarakan rencana menggelar ”rumah terbuka” bagi yang ingin melihat jenazah Jackson di kediamannya. Namun, keluarga Jackson belum memutuskan hal itu. Dalam wawancara dengan televisi NBC, Jermaine Jackson menyebutkan, Neverland akan menjadi peristirahatan terakhir bagi adiknya. ”Ini rumah yang ia bangun. Kenapa ia tidak dimakamkan di sini saja. Saya merasa ia masih di sini. Michael membangun rumah ini dengan penuh cinta. Anda bisa merasakannya,” ujarnya.

Penyebab kematian

Surat kematian Jackson sudah diterbitkan, tetapi tidak tertulis penyebab kematiannya. Pasalnya, sampai saat ini penyelidik masih menganalisis otak Jackson. Wakil Kepala Koroner Ed Winter menyebutkan, otak Jackson atau setidaknya sebagian kecil dari otak Jackson masih disimpan penyelidik dan akan dikembalikan ke keluarga Jackson setelah pemeriksaan saraf usai.

Winter mengakui tidak lazim menyimpan otak atau sampel dari otak seperti itu. Biasanya pihak keluarga menunda pemakaman hingga sampel itu dikembalikan. ”Sejauh yang saya tahu, keluarga Jackson belum berencana memakamkan jenazah Jackson,” kata Winter. Dalam surat kematian itu tidak disebutkan rencana lokasi pemakaman Jackson. (REUTERS/AFP/AP/LUK)

Sumber : kompas.com

Kamis, 09 Juli 2009

SBY Jangan Cuma Lanjutkan, Tapi Lebih Cepat Lebih Baik Pilih Menteri

Jakarta - Capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta segera memilih siapa-siapa yang akan menjadi pembantunya dalam kaninet mendatang. Lebih cepat menemukan figur yang cocok, dianggap lebih baik.

"Iya dong harus cepat. Sebab bagaimana pun, masyarakat butuh kepastian dan kecepatan. Setelah dipilih dan menang secara mutlak, harus diikuti dengan langkah-langkah cepat," kata pengamat politik dari LIPI, Syamsudin Haris kepada detikcom, Kamis (9/7/2009).

Langkah cepat tersebut, menurut Syamsudin bukan cuma dalam pemilihan figur menteri, tapi juga cepat menuntaskan agenda pemerintahan ke depan. Sehingga program-program baru yang akan dilakukan tidak terkendala oleh PR pemerintahan sebelumnya.

"Langkah-langkah cepat itu bukan hanya dalam konteks kabinet, tapi cepat untuk menuntaskan agenda pemerintah," imbuhnya.

Syamsudin juga meminta agar SBY tidak segan-segan melanjutkan para menteri yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) untuk masuk lagi ke kabinet selanjutnya, dengan catatan memiliki kemampuan baik. Namun jika menteri yang bersangkutan mempunyai masalah atau tidak paham dengan apa yang harus dia kerjakan, mendingan SBY memilih figur lain. "Ada beberapa yang masih layak, terutama yang profesional," jelasnya.

Dia menambahkan komposisi antara menteri profesional dan menteri yang berasal dari partai harusnya 70 persen banding 30 persen. Hal ini dimaksudkan agar mayoritas menteri paham akan tugas yang akan mereka kerjakan dan bisa membantu SBY lima tahun ke depan dengan baik. "Idealnya 70:30 persen," ujarnya singkat.

Sumber: detik.com

Kamis, 25 Juni 2009

Transformers 2: Ketika The Fallen Turun ke Bumi


Sangat menegangkan dan penuh ledakan rasanya itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan 'Transformers: Revenge of the Fallen'. Dijamin, Optimus Prime Cs akan membuat adrenalin Anda terpacu selama 147 menit.

Michael Bay, sang sutradara membuka 'Transformers: Revenge of the Fallen' dengan adegan sekelompok robot Transformers membangun sebuah mesin raksasa di bumi pada 17 ribu SM. Adegan tersebut merupakan petunjuk untuk memudahkan Anda mengikuti alur film ini.

Adegan dilanjutkan ke masa kini, ketika Autobots dan tentara Amerika Serikat bergabung membentuk NEST. Organisasi rahasia itu bertugas untuk memburu sisa pasukan Decepticon yang bersembunyi.

Suatu saat, NEST berhasil menemukan beberapa Decepticon di Shanghai, Cina yaitu Sideways dan Demolishor yang berukuran besar. Tanpa menemui kendala, Optimus Cs pun berhasil menghancurkan dua Decepticon tersebut. Namun sebelum dibunuh, Demolishor sempat mengatakan sesuatu kepada Optimus. "The Fallen akan bangkit," ujar Demolishor.

Di tempat lain, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) sedang bersiap pindah ke asrama untuk melanjutkan studinya ke bangku kuliah. Namun ketika berkemas-kemas, Sam menemukan potongan kecil the AllSpark, benda berbentuk kubus yang muncul di film pertama 'Transformers,' pada jaketnya.

Secara tidak sengaja, Sam menyentuhnya. Secara tiba-tiba, benda itu langsung merasuki pikiran Sam dengan kode-kode misterius Cybertronian kuno. Nah, mulai dari situ adegan-adegan seru dan menegangkan mengalir deras.

'Transformers: Revenge of the Fallen' menampilkan lebih banyak robot. Ada 30 lebih robot beraksi di film yang juga digarap oleh Steven Spielberg. Salah satu robot yang dinanti kehadirannya yaitu, Devastator atau yang lebih dikenal dengan nama The Constructicons.

Memang tidak mengherankan jika Shia LaBeouf dan Megan Fox sering mengalami cedera saat menggarap film ini. 'Transformers: Revenge of the Fallen' sarat dengan ledakan-ledakan berskala besar.

Visual efek film ini tidak perlu diragukan lagi kualitasnya dan patut mendapat acungan dua jempol. Autobot maupun Decepticon terlihat sangat detail, gerakannya pun sempurna tanpa cacat.

Selain visual efek dan sebagainya, aktor-aktris film ini patut mendapat sorotan. Apalagi penampilan seksi Megan Fox sebagai gula-gula mampu jadi daya tarik tambahan untuk 'Transformers: Revenge of the Fallen'.

So tunggu apalagi? Yuk, nonton 'Transformers: Revenge of the Fallen'!

Sumber : detik.com